Ujian
Tengah Semester
DESAIN
SISTEM INSTRUKSIONAL
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Harun
Sitompul, M.Pd
O
L
E
H
Nama : Rocky Reyapruma Sihotang
NIM : 8146121033
![]() |
PROGRAM
STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2015
1.
Asumsi dasar dan rasional dari
desain instruksional (pembelajaran) menurut Gagne dan Briggs.
Tidak
satu model desain instruksional yang cocok untuk semua situasi dan kondisi
pembelajaran. Menciptaan model-model desain instruksional yang bervariasi
tersebut menunjukkan bahwa ada prinsip dan peristiwa yang mempengaruhi belajar,
dan bagaimana menciptakan strategi pembelajaran yang terbaik. Namun demikian,
ada beberapa asumsi dasar yang menjadi acuan dalam mendesain sebuah
pembelajaran, yaitu:
- Desain instruksional lebih bertujuan untuk membentuk proses belajar dari pada mengajar.
- Disadari karena belajar adalah proses kompleks yang dipengaruhi oleh banyak variable.
- Model desain instruksional dapat diterapkan pada berbagai tingkatan.
- Desain instruksional merupakan proses berulang-ulang.Mengingat pemahaman kita tentang bagaimana orang belajar, kita tidak dapat merancang pembelajaran tanpa melibatkan peserta didik dalam proses.
- Desain instruksional itu sendiri adalah proses yang terdiri dari sejumlah sub proses yang diidentifikasi dan terkait.
- Berbagai jenis pembelajaran yang disebutkan akan menghasilkan berbagai jenis pembelajaran.Tidak ada cara terbaik untuk mengajarkan segala sesuatu, dan kondisi pembelajaran yang sesuai dengan jenis hasil yang kita inginkan akan mempengaruhi pemikiran kita tentang desain kegiatan pembelajaran dan bahan.
Gagne dan Briggs mengemukakan 12 langkah
dalam pengembangan desain intruksional sebagai berikut:
1. Analisis
dan identifikasi kebutuhan
2. Penetapan
tujuan umum dan khusus
3. Identifikasi
alternatif cara memenuhi kebutuhan
4. Merancang
komponen dari system
5. Analisis (a) sumber-sumber yang diperlukan (b)
sumber-sumber yang tersedia
(c) kendala-kendala.
6. Kegiatan
untuk mengatasi kendala
7. Memilih
atau mengembangkan materi pelajaran
8. Merancang
prosedur penelitian murid
9. Uji
coba lapangan: evaluasi formatif dan pendidikan guru.
10. Penyesuaian,
revisi dan evaluasi lanjut
11. Evaluasi
sumatif
12. Pelaksanaan
operasional
Model tersebut di atas merupakan model
yang paling lengkap yang melukiskan bagaimana suatu proses pembelajaran
dirancang secara sistematis dari awal sampai akhir.
Kegiatan seperti ini cocok untuk
diterapkan pada suatu program pendidikan yang relatif baru. DiIndonesia
prosedur tersebut mencakup mulai dari simposium dan pengembangan kurikulum yang
dilakukan mulai dari tingkat sekolah (KTSP). Kemudian guru diberikan kewenangan
untuk mengembangkan standar kompetensi menjadi sejumlah kompetensi dasar yang
dituangkansecara eksplisit dalam silabus dan RPP.
Tahap awal dalam perencanaan
pembelajaran dilakukan dengan merumuskan tujuan yangingin dicapai. Dari tujuan
yang ingin dicapai tersebut kemudian dilakukan analisis materi belajaryang akan
disajikan dalam proses pembelajaran. Tahap selanjutnya adalah
mengelompokkanmateri belajar dengan mendasarkan pada ketepatan waktu penyajian.
Dari materi belajar tersebutkemudian dipilih metode dan media yang sesuai.
Tahap berikutnya adalah melakukan sintesisterhadap berbagai komponen
pembelajaran, hasil dari sistematis komponen tersebut kemudiandievaluasi. Hasil
evaluasi kemudian dijadikan dasar dalam pemberian umpan balik
2.
Perbedaan desain pembelajaran
dengan pengembangan pembelajaran.
Seperti
telah diuraikan pada bagian sebelumnya, bahwa ada cukup banyak model
pengembangan desain pembelajaran yang dapat digunakan dalam perancangan proses
pembelajaran. Dua model pengembangan desain pembelajaran terkini yang masih
bersesuaian adalah The Systematic Design
of Instruction (gambar 1), karya
Walter, Lou and Carey (2009), dan Model Pengembangan Instruksional (gambar 2),
karya Suparman (2012).
![]() |
Gambar
1. The Systematic Design of Instruction
Sumber:
Walter, Lou and Carey (2009: 1)
Gambar
2. Model Pengembangan Instruksional
Sumber:
Suparman (2012: 116)
Desain pembelajaran memegang peranan
penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran, hal ini dimungkinkan karena
dengan merancang desain pembelajaran, seorang desainer (dalam hal ini guru)
memiliki peran vital dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Dengan memiliki kesadaran akan pentingnya tujuan pembelajaran, maka guru akan
berupaya untuk melakukan berbagai aktifitas dalam rangka mewujudkan tujuan
pembelajaran, seperti merumuskan bahan instruksional, memilih strategi
instruksional, memilih media dan alat pembelajaran, merancang alat evaluasi,
dan lain sebagainya.
3.
Mengapa perlu ada berbagai macam
model pengembangan pembelajaran.
Dalam konteks pengembangan model pembelajaran, kegiatan pengembangan
(develop) dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1)
Validasi model oleh ahli/pakar. Hal-hal yang divalidasi meliputi panduan
penggunaan model dan perangkat model pembelajaran. Tim ahli yang dilibatkan
dalam proses validasi terdiri dari: pakar teknologi pembelajaran, pakar bidang
studi pada mata pelajaran yang sama, pakar evaluasi hasil belajar.
2)
Revisi model berdasarkan masukan dari para pakar pada saat validasi
3)
Uji coba terbatas dalam pembelajaran di kelas, sesuai situasi nyata yang akan
dihadapi.
4)
Revisi model berdasarkan hasil uji coba
5) Implementasi model pada wilayah yang lebih
luas. Selama proses implementasi tersebut, diuji efektivitas model dan
perangkat model yang dikembangkan. Pengujian efektivitas dapat dilakukan dengan
eksperimen atau Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Cara pengujian melalui eksperimen dilakukan dengan membandingkan hasil
belajar pada kelompok pengguna model dan kelompok yang tidak menggunakan model.
Apabila hasil belajar kelompok pengguna model lebih bagus dari kelompok yang
tidak menggunakan model maka dapat dinyatakan model tersebut efektif. Cara
pengujian efektivitas pembelajaran melalui PTK dapat dilakukan dengan cara
mengukur kompetensi sebelum dan sesudah pembelajaran. Apabila kompetensi
sesudah pembelajaran lebih baik dari sebelumnya, maka model pembelajaran yang
dikembangkan juga dinyatakan efektif.
4.
Perbedaan empat taksonomi model
pengembangan pembelajaran orientasi : kelas, produk atau hasil, sistem dan
orientasi orgaisasi/institusi.
Model yang berfokus
pada sistem berbeda bila dibandingkan dengan pengembangan model yang
berorientasi pada produk. Model yang berfokus pada sistem mempunyai tujuan
bahwa masukan dan keluaran dianggap sebagai suatu sistem. Keluaran pengembangan
meliputi material, peralatan, suatu rencana manajemen, dan barangkali suatu
pelatihan instruktur. Ini berarti bahwa " sistem" kemudian bisa
ditempatkan sebagai target. Sistem menuntut analisa yang luas: ( a) lingkungan
penggunaan, ( b) karakteristik tugas, dan ( c) ya atau tidaknya pengembangan
perlu berlangsung. Ini merupakan suatu masalah yang perlu dipecahkan dengan
menggunakam pendekatan menuntut pengumpulan data secara alamiah.
5.
Manfaat identifikasi kebutuhan pembelajaran
pada suatu paket pembelajaran/pelatihan dan prosesnya.
Manfaat identifikasi adalah untuk
memperoleh data yang akurat tentang suatu daerah dan mengetahui pembelajaran/pelatihan
apa yang diperlukan oleh masyarakat disuatu daerah.
Kemudian prosesnya adalah dengan memuat
kuisioner mengenai apa yang dibutuhkan oleh responden untuk
pelatihan/pembelajaran mereka.
6.
Identifikasi kebutuhan pembelajaran
dari suatu paket pelatihan yag berorientasi lecakapan hidup (lifeskill).
Sebagai contoh,
Langkah pertama dalam menentukan
pelatihan apa yang akan diadakan adalah melakukan identifikasi kebutuhan
pelatihan. Metode yang digunakan untuk identifikasi kebutuhan pelatihan adalah
dengan Metode IKL (Identifikasi Kebutuhan Lapangan) .
Tujuan diadakannya IKL adalah untuk
memperoleh data yang akurat tentang suatu daerah dan mengetahui pelatihan apa
yang diperlukan oleh masyarakat disuatu daerah.
Untuk Sekolah Pertanian Pembangunan, biasanya IKL dilakukan di desa desa karena sasaran utama peserta
pelatihannya adalah petani dan keluarganya.
IKL dirancang dengan kuisener kepada calon peserta. Bahasa dalam
kuisener dibuat sederhana dan bila diperlukan, surveyor membantu menjelaskan
isi pertanyaan pada responden. Sedangkan
untuk data potensi daerah bisa didapat dari instansi yang terkait.
Isi pertanyaan berhubungan dengan materi
apa yang diinginkan dan diperlukan oleh petani, pelatihan apa yang pernah ada
didaerah tersebut, dan potensi apa saja yang mungkin dikembangkan di daerah
tersebut. Ketiga hal itulah yang menjadi pertimbangan dalam menentukan
pelatihan apa yang diperlukan.
Dengan mengetahui keinginan dan
kebutuhan petani, maka peserta akan antusias terhadap pelatihan. Peserta akan datang dengan kesadaran dan
tidak merasa terpaksa. Dengan mengetahui pelatihan yang pernah diikuti oleh
petani atau pernah diadakan di suatu desa, maka tidak akan terjadi pengulangan
materi. Dengan mengetahui potensi
daerah, pihak sekolah bisa menawarkan pelatihan yang sesuai dengan potensi
daerah tersebut. Jadi pelatih bisa
menjadi inspirator dan pendamping untuk mengembangkan “sesuatu yang baru” bagi
daerah tersebut.
7.
Rumusan Goal atau Tujuan
Pembelajaran Umum (TPU) atau Standar Kompetensi (SK) utuk satu paket pelatihan
tersebut berdasarkan identifikasi kebutuhan yang dilakukan.
Setelah melakukan pelatihan, petani bisa
mengembangkan potensi yang ada di daerahnya.
8.
Anlisis pembelajaran terhadap
perilaku umum atau kompetensi umum yang ada pada Goal/TPU/SK yang sudah
dilakukan pada soal no 7.
a.
Menuliskan prilaku umum yang telah
ada dalam tujuan pembelajaran umum untuk mata pelajaran yang sedang
dikembangkan.
b.
Menuliskan setiap prilaku
khusus yang merupakan bagian dari prilaku umum.
c.
Membuat prilaku khusus kedalam
daftar urutan yang logis dari prilaku umum.
d.
Menambahkan prilaku khusus atau
perlu dikurangi.
e.
Setiap prilaku khusus ditulis dalam
lembar kartu atau kertas ukuran 3x5 cm.
f.
Kemudian kartu disusun dengan
menempatkannya dalam struktur hirarkhis prosedural, atau dikelompokan menurut
kedudukan masing-masing terhadap kartu lain.
g.
Bila perlu ditambah dengan prilaku
khusus lain atau dikurangi sesuai kedudukan masing-masing.
h.
Letak prilaku digambarkan dalam
bentuk kotak-kotak diatas kertas lebar sesuai dengan letak kartu yang telah
disusun.
i.
Hubungkan kotak-kotak yang telah
digambar dengan garis-garis vertikal dan horizontal untuk menyatakan
hirarhikal, prosedural, dan pengelompokan.
j.
Meneliti kemungkinan hubungan
prilaku umum yang satu dengan yang lain atau prilaku khusus yang berada di
bawah prilaku umum yang berbeda.
k.
Memberi nomor urut pada setiap
prilaku khusus dimulai dari yang terjauh hingga yang terdekat dari prilaku
umum.
9.
Struktur perilaku berdasarkan hasil
analisis pembelajaran yang dilakukan pada soal no 8.
![]() |


