Minggu, 05 April 2015

DESAIN SISTEM INSTRUKSIONAL



Ujian Tengah Semester

DESAIN SISTEM INSTRUKSIONAL
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Harun Sitompul, M.Pd


O
L
E
H



Nama    : Rocky Reyapruma Sihotang
NIM       : 8146121033




 










PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2015




1.      Asumsi dasar dan rasional dari desain instruksional (pembelajaran) menurut Gagne dan Briggs.
Tidak satu model desain instruksional yang cocok untuk semua situasi dan kondisi pembelajaran. Menciptaan model-model desain instruksional yang bervariasi tersebut menunjukkan bahwa ada prinsip dan peristiwa yang mempengaruhi belajar, dan bagaimana menciptakan strategi pembelajaran yang terbaik. Namun demikian, ada beberapa asumsi dasar yang menjadi acuan dalam mendesain sebuah pembelajaran, yaitu:
  1. Desain instruksional lebih bertujuan untuk membentuk proses belajar dari pada mengajar.
  2. Disadari karena belajar adalah proses kompleks yang dipengaruhi oleh banyak variable.
  3. Model desain instruksional dapat diterapkan pada berbagai tingkatan.
  4. Desain instruksional merupakan proses berulang-ulang.Mengingat pemahaman kita tentang bagaimana orang belajar, kita tidak dapat merancang pembelajaran tanpa melibatkan peserta didik dalam proses.
  5. Desain instruksional itu sendiri adalah proses yang terdiri dari sejumlah sub proses yang diidentifikasi dan terkait.
  6. Berbagai jenis pembelajaran yang disebutkan akan menghasilkan berbagai jenis pembelajaran.Tidak ada cara terbaik untuk mengajarkan segala sesuatu, dan kondisi pembelajaran yang sesuai dengan jenis hasil yang kita inginkan akan mempengaruhi pemikiran kita tentang desain kegiatan pembelajaran dan bahan.
Gagne dan Briggs mengemukakan 12 langkah dalam pengembangan desain intruksional sebagai berikut:
1.         Analisis dan identifikasi kebutuhan
2.         Penetapan tujuan umum dan khusus
3.         Identifikasi alternatif cara memenuhi kebutuhan
4.         Merancang komponen dari system
5.         Analisis  (a) sumber-sumber yang diperlukan (b) sumber-sumber yang tersedia
            (c) kendala-kendala.
6.         Kegiatan untuk mengatasi kendala
7.         Memilih atau mengembangkan materi pelajaran
8.         Merancang prosedur penelitian murid
9.         Uji coba lapangan: evaluasi formatif dan pendidikan guru.
10.       Penyesuaian, revisi dan evaluasi lanjut
11.       Evaluasi sumatif
12.       Pelaksanaan operasional
Model tersebut di atas merupakan model yang paling lengkap yang melukiskan bagaimana suatu proses pembelajaran dirancang secara sistematis dari awal sampai akhir.
Kegiatan seperti ini cocok untuk diterapkan pada suatu program pendidikan yang relatif baru. DiIndonesia prosedur tersebut mencakup mulai dari simposium dan pengembangan kurikulum yang dilakukan mulai dari tingkat sekolah (KTSP). Kemudian guru diberikan kewenangan untuk mengembangkan standar kompetensi menjadi sejumlah kompetensi dasar yang dituangkansecara eksplisit dalam silabus dan RPP.
Tahap awal dalam perencanaan pembelajaran dilakukan dengan merumuskan tujuan yangingin dicapai. Dari tujuan yang ingin dicapai tersebut kemudian dilakukan analisis materi belajaryang akan disajikan dalam proses pembelajaran. Tahap selanjutnya adalah mengelompokkanmateri belajar dengan mendasarkan pada ketepatan waktu penyajian. Dari materi belajar tersebutkemudian dipilih metode dan media yang sesuai. Tahap berikutnya adalah melakukan sintesisterhadap berbagai komponen pembelajaran, hasil dari sistematis komponen tersebut kemudiandievaluasi. Hasil evaluasi kemudian dijadikan dasar dalam pemberian umpan balik


2.      Perbedaan desain pembelajaran dengan pengembangan pembelajaran.
Seperti telah diuraikan pada bagian sebelumnya, bahwa ada cukup banyak model pengembangan desain pembelajaran yang dapat digunakan dalam perancangan proses pembelajaran. Dua model pengembangan desain pembelajaran terkini yang masih bersesuaian adalah The Systematic Design of Instruction (gambar 1), karya Walter, Lou and Carey (2009), dan Model Pengembangan Instruksional (gambar 2), karya Suparman (2012).
 



 














Gambar 1. The Systematic Design of Instruction
Sumber: Walter, Lou and Carey (2009: 1)








 












Gambar 2. Model Pengembangan Instruksional
Sumber: Suparman (2012: 116)

Desain pembelajaran memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran, hal ini dimungkinkan karena dengan merancang desain pembelajaran, seorang desainer (dalam hal ini guru) memiliki peran vital dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Dengan memiliki kesadaran akan pentingnya tujuan pembelajaran, maka guru akan berupaya untuk melakukan berbagai aktifitas dalam rangka mewujudkan tujuan pembelajaran, seperti merumuskan bahan instruksional, memilih strategi instruksional, memilih media dan alat pembelajaran, merancang alat evaluasi, dan lain sebagainya.

3.      Mengapa perlu ada berbagai macam model pengembangan pembelajaran.
Dalam konteks pengembangan model pembelajaran, kegiatan pengembangan (develop) dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1) Validasi model oleh ahli/pakar. Hal-hal yang divalidasi meliputi panduan penggunaan model dan perangkat model pembelajaran. Tim ahli yang dilibatkan dalam proses validasi terdiri dari: pakar teknologi pembelajaran, pakar bidang studi pada mata pelajaran yang sama, pakar evaluasi hasil belajar.
2) Revisi model berdasarkan masukan dari para pakar pada saat validasi
3) Uji coba terbatas dalam pembelajaran di kelas, sesuai situasi nyata yang akan dihadapi.
4) Revisi model berdasarkan hasil uji coba
5) Implementasi model pada wilayah yang lebih luas. Selama proses implementasi tersebut, diuji efektivitas model dan perangkat model yang dikembangkan. Pengujian efektivitas dapat dilakukan dengan eksperimen atau Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Cara pengujian melalui eksperimen dilakukan dengan membandingkan hasil belajar pada kelompok pengguna model dan kelompok yang tidak menggunakan model. Apabila hasil belajar kelompok pengguna model lebih bagus dari kelompok yang tidak menggunakan model maka dapat dinyatakan model tersebut efektif. Cara pengujian efektivitas pembelajaran melalui PTK dapat dilakukan dengan cara mengukur kompetensi sebelum dan sesudah pembelajaran. Apabila kompetensi sesudah pembelajaran lebih baik dari sebelumnya, maka model pembelajaran yang dikembangkan juga dinyatakan efektif.

4.      Perbedaan empat taksonomi model pengembangan pembelajaran orientasi : kelas, produk atau hasil, sistem dan orientasi orgaisasi/institusi.
Model yang berfokus pada sistem berbeda bila dibandingkan dengan pengembangan model yang berorientasi pada produk. Model yang berfokus pada sistem mempunyai tujuan bahwa masukan dan keluaran dianggap sebagai suatu sistem. Keluaran pengembangan meliputi material, peralatan, suatu rencana manajemen, dan barangkali suatu pelatihan instruktur. Ini berarti bahwa " sistem" kemudian bisa ditempatkan sebagai target. Sistem menuntut analisa yang luas: ( a) lingkungan penggunaan, ( b) karakteristik tugas, dan ( c) ya atau tidaknya pengembangan perlu berlangsung. Ini merupakan suatu masalah yang perlu dipecahkan dengan menggunakam pendekatan menuntut pengumpulan data secara alamiah.

5.      Manfaat identifikasi kebutuhan pembelajaran pada suatu paket pembelajaran/pelatihan dan prosesnya.
Manfaat identifikasi adalah untuk memperoleh data yang akurat tentang suatu daerah dan mengetahui pembelajaran/pelatihan apa yang diperlukan oleh masyarakat disuatu daerah. 
Kemudian prosesnya adalah dengan memuat kuisioner mengenai apa yang dibutuhkan oleh responden untuk pelatihan/pembelajaran mereka.

6.      Identifikasi kebutuhan pembelajaran dari suatu paket pelatihan yag berorientasi lecakapan hidup (lifeskill).
Sebagai contoh,
Langkah pertama dalam menentukan pelatihan apa yang akan diadakan adalah melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan. Metode yang digunakan untuk identifikasi kebutuhan pelatihan adalah dengan Metode IKL (Identifikasi Kebutuhan Lapangan) .
Tujuan diadakannya IKL adalah untuk memperoleh data yang akurat tentang suatu daerah dan mengetahui pelatihan apa yang diperlukan oleh masyarakat disuatu daerah.  Untuk Sekolah Pertanian Pembangunan, biasanya IKL dilakukan di desa  desa karena sasaran utama peserta pelatihannya adalah petani dan keluarganya.
IKL dirancang dengan  kuisener kepada calon peserta. Bahasa dalam kuisener dibuat sederhana dan bila diperlukan, surveyor membantu menjelaskan isi pertanyaan pada responden.  Sedangkan untuk data potensi daerah bisa didapat dari instansi yang terkait.
Isi pertanyaan berhubungan dengan materi apa yang diinginkan dan diperlukan oleh petani, pelatihan apa yang pernah ada didaerah tersebut, dan potensi apa saja yang mungkin dikembangkan di daerah tersebut. Ketiga hal itulah yang menjadi pertimbangan dalam menentukan pelatihan apa yang diperlukan.
Dengan mengetahui keinginan dan kebutuhan petani, maka peserta akan antusias terhadap pelatihan.  Peserta akan datang dengan kesadaran dan tidak merasa terpaksa. Dengan mengetahui pelatihan yang pernah diikuti oleh petani atau pernah diadakan di suatu desa, maka tidak akan terjadi pengulangan materi.  Dengan mengetahui potensi daerah, pihak sekolah bisa menawarkan pelatihan yang sesuai dengan potensi daerah tersebut.  Jadi pelatih bisa menjadi inspirator dan pendamping untuk mengembangkan “sesuatu yang baru” bagi daerah tersebut.

7.      Rumusan Goal atau Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) atau Standar Kompetensi (SK) utuk satu paket pelatihan tersebut berdasarkan identifikasi kebutuhan yang dilakukan.
Setelah melakukan pelatihan, petani bisa mengembangkan potensi yang ada di daerahnya.

8.      Anlisis pembelajaran terhadap perilaku umum atau kompetensi umum yang ada pada Goal/TPU/SK yang sudah dilakukan pada soal no 7.

a.       Menuliskan prilaku umum yang telah ada dalam tujuan pembelajaran umum untuk mata pelajaran yang sedang dikembangkan.
b.      Menuliskan  setiap prilaku khusus yang merupakan bagian dari prilaku umum.
c.       Membuat prilaku khusus kedalam daftar urutan yang logis dari prilaku umum.  
d.      Menambahkan prilaku khusus atau perlu dikurangi.
e.       Setiap prilaku khusus ditulis dalam lembar kartu atau kertas ukuran 3x5 cm.
f.       Kemudian kartu disusun dengan menempatkannya dalam struktur hirarkhis prosedural, atau dikelompokan menurut kedudukan masing-masing terhadap kartu lain.
g.      Bila perlu ditambah dengan prilaku khusus lain atau dikurangi sesuai kedudukan masing-masing.
h.      Letak prilaku digambarkan dalam bentuk kotak-kotak diatas kertas lebar sesuai dengan letak kartu yang telah disusun.
i.        Hubungkan kotak-kotak yang telah digambar dengan garis-garis vertikal dan horizontal untuk menyatakan hirarhikal, prosedural, dan pengelompokan.
j.        Meneliti kemungkinan hubungan prilaku umum yang satu dengan yang lain atau prilaku khusus yang berada di bawah prilaku umum yang berbeda.
k.      Memberi nomor urut pada setiap prilaku khusus dimulai dari yang terjauh hingga yang terdekat dari prilaku umum.




9.      Struktur perilaku berdasarkan hasil analisis pembelajaran yang dilakukan pada soal no 8.